“Kata Bu Rina: Di BSA, kita akan bermain kata dan berbicara rasa”
By Mahasiswa BSA 2020
Tulisan di atas tidak sengaja terbaca oleh penulis, tatkala iseng mengutak-atik gawai pada status media sosial, dan taraaa…. foto penulis dengan mulut monyong yang epik, terpampang nyata di status seorang mahasiswa, begitulah captionnya seakan sabda saja. Akibatnya, tulisan ini pun meluncur karenanya.
Tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai kajian umum tentang pendidikan sastra secara luas. Ia lahir dari ruang yang sangat spesifik: kelas teori pengkajian sastra tepatnya pada mata kuliah Ilmu Bayan. Di ruang itu, penulis berhadapan dengan mahasiswa yang secara konseptual cukup kuat, namun kerap kaku secara bahasa; takut bermain metafora, ragu memilih diksi dan cenderung berlindung di balik istilah teori. Maka ungkapan “bermain kata dan berbicara rasa” bukan sekadar slogan kelas, melainkan strategi pedagogis untuk membebaskan mereka dari ketakutan berbahasa.
Dalam ruang-ruang kelas sastra, kita sering berbicara tentang teks, makna, dan tafsir. Namun ada satu dimensi yang tak pernah benar-benar hilang dari proses itu, yaitu: rasa. Justru dari sinilah perjalanan berbahasa bermula. Maka, ketika ungkapan “bermain rasa, berbicara (mengolah) kata” bergema di antara mahasiswa, sebenarnya kita sedang mengajak mereka kembali pada sumber paling hakiki dari sastra: pengalaman batin manusia.
Namun menariknya, ungkapan itu memiliki “saudaranya” yang seolah berjalan dari arah berlawanan: “bermain kata, mengolah (berbicara) rasa”. Keduanya mirip, tetapi arah filosofinya berbeda. Perbedaan kecil dalam urutan kata ini seperti perbedaan antara embun dan hujan, keduanya air, tetapi cara turunnya tak sama.
Bermain Rasa, Mengolah Kata: Perjalanan dari Dalam ke Luar
Bagi banyak penulis, rasa adalah titik awal. Ada kegelisahan yang menggantung, ada pengalaman yang menyeret perhatian, atau ada kenangan yang mendesak untuk ditafsirkan ulang. Bahasa kemudian hadir sebagai perahu yang mengangkut rasa itu menuju bentuk nyata, menuju pelabuhan yang mempertemukan rasa dan kata.
Pendekatan ini menempatkan pengalaman batin sebagai pusat penciptaan, mengajarkan mahasiswa untuk membaca diri sebelum membaca teks, mengarahkan pendidikan sastra sebagai praktik reflektif, bukan sekadar akademik, menghidupkan kesadaran estetik sebagai fondasi berbahasa.
Sastra, dalam pendekatan ini, adalah jalan keluar dari kedalaman diri.
Bermain Kata, Mengolah Rasa: Perjalanan dari Luar ke Dalam
Sebaliknya, ada penulis dan pembelajar yang justru menemukan rasa dalam permainan bahasa. Mereka mencoba metafora baru, membolak-balik struktur kalimat, mengubah ritme, atau menantang logika tata bahasa. Dan dalam permainan itu, sesuatu terjadi: rasa muncul belakangan sebagai penemuan, bukan sebagai sumber.
Dalam khazanah Ilmu Bayan, pengalaman semacam ini dikenal dengan tasybīh dhimnīy, yakni perumpamaan yang tidak diucapkan secara langsung, tetapi dihadirkan melalui bahasa, sehingga rasa tidak diajarkan, melainkan dialami oleh pembaca.
Pendekatan ini menempatkan bahasa sebagai laboratorium kreativitas, membiasakan mahasiswa untuk bereksperimen, mengajarkan bahwa makna tidak selalu ditemukan lewat perenungan, tetapi lewat proses menulis itu sendiri, mengarah pada pendidikan sastra yang lebih dinamis dan dialogis.
Sastra, di sini, adalah jalan pulang menuju diri.
Mengapa Keduanya Penting dalam Pendidikan Sastra?
Pendidikan sastra tak pernah satu jalur. Terlalu sering, terutama dalam kelas pengkajian sastra, mahasiswa terjebak pada kepatuhan konsep dan lupa bahwa teori sejatinya lahir dari kepekaan bahasa. Dampaknya, bahasa menjadi kering, dan sastra diperlakukan sebagai objek mati yang hanya boleh disentuh dengan istilah-istilah akademik. Pendidikan sastra sejatinya laksana jalan setapak yang bercabang dua namun berakhir di tempat yang sama: pemahaman tentang manusia.
Mahasiswa yang lebih sensitif pada pengalaman batin akan menemukan dirinya dalam pendekatan pertama. Sementara mereka yang lebih analitis, bermain dengan struktur atau konsep, lebih nyaman berjalan melalui pendekatan kedua.
Namun pada akhirnya, keduanya saling mengisi: rasa tanpa kata hanya menjadi kesunyian, kata tanpa rasa hanya menjadi bunyi. Maka tugas pendidik sastra bukan menyuruh mahasiswa memilih salah satu, tetapi membuka kesadaran bahwa perjalanan ini bisa dimulai dari mana saja, asalkan mereka berani melangkah.
Kesimpulan: Dua Jalan, Satu Tujuan
“Bermain rasa, mengolah kata” dan “bermain kata, mengolah rasa” bukanlah pertentangan. Mereka adalah dua cara manusia memaknai dunia: dari dalam ke luar, atau dari luar ke dalam. Sastra, pada akhirnya, adalah ruang yang mempersatukan keduanya.
Jika rasa adalah api, kata adalah lentera.
Jika kata adalah jendela, rasa adalah lanskap di baliknya.
Maka dalam pendidikan sastra, terutama di kelas teori pengkajian sastra, tugas pendidik bukan hanya mengajarkan cara membaca teks, tetapi menumbuhkan keberanian berbahasa: berani merajut kata, berani menyulam makna, dan pada akhirnya berani menemukan rasa di antara teori.
Di sanalah sastra kembali hidup, bukan sebagai beban akademik, melainkan sebagai pengalaman manusiawi yang dipikirkan.
