SALATIGA– Menindaklanjuti persiapan agenda penting universitas, jajaran pimpinan Dekanat menggelar rapat koordinasi bersama tim pengelola dan Tim Akreditasi pada Senin, 6 April 2026. Pertemuan yang berlangsung di Ruang Rapat Utama ini dihadiri oleh Kabag, Kapus GjMF, Kepala Laboratorium, hingga jajaran Kaprodi dan Sekprodi. Fokus utama diskusi adalah mematangkan kesiapan prodi ILHA dalam menghadapi Asesmen Lapangan (AL) yang menjadi penentu mutu akademik ke depan.

Dalam arahannya, Dekan menekankan bahwa pilihan moda asesmen—apakah akan dilaksanakan secara luring (luar jaringan) atau daring (dalam jaringan)—harus diputuskan dengan pertimbangan matang. Hal ini menyangkut efektivitas komunikasi dengan asesor serta kesiapan infrastruktur dokumen fisik maupun digital. Dekan berharap seluruh elemen tim akreditasi memiliki satu suara demi meraih predikat unggul.

Ketua Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) meminta penjelasan mendalam mengenai komparasi kedua moda tersebut. Kaprodi BSA memberikan catatan kritis mengenai pentingnya “penajaman” strategi, mengingat masing-masing pilihan memiliki implikasi yang berbeda terhadap proses verifikasi data di lapangan dan atmosfer penilaian secara keseluruhan.

Menanggapi hal tersebut, forum membedah bahwa AL Luring memiliki keunggulan pada kedalaman interaksi dan observasi fasilitas secara langsung yang lebih autentik, meski memerlukan manajemen logistik yang lebih ekstra. Sebaliknya, AL Daring menawarkan efisiensi waktu dan anggaran, namun menuntut kesiapan teknis jaringan serta sistem digitalisasi dokumen yang sangat presisi agar tidak terjadi miskomunikasi saat sesi wawancara berlangsung.

Rapat diakhiri dengan kesepakatan pilihan pada luring. Tim diinstruksikan segera melakukan simulasi internal guna menguji kesiapan final prodi ILHA. Dengan koordinasi yang solid antara jajaran pimpinan dan tim teknis, diharapkan proses akreditasi tahun ini dapat berjalan lancar dan memberikan hasil maksimal bagi pengembangan institusi.