UPDATE KABAR SEPUTAR PRODI IAT

KKL Riset Interdisipliner IAT : Harmonisasi agama dan budaya masyarakat adat suku Tengger

Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Fakultas Ushuluddin Adab dan Humaniora, Universitas Islam Negeri Salatiga melaksanakan kegiatan Kuliah Kerja Lapangan (KKL) melalui praktik observasi, riset, dan pengamatan lapangan di kawasan Gunung Bromo yang berada di Dusun Krajan, Desa Wonokerto, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, Jawa Timur. Kegiatan ini diselenggarakan pada 28 April 2026 sebagai bentuk implementasi teoritis dari kajian akulturasi budaya, khususnya dalam konteks pengabdian kepada masyarakat berbasis riset interdisipliner.

Pelaksanaan KKL tersebut bertujuan untuk memperluas pengalaman empiris mahasiswa dan dosen, memperdalam pemahaman akademik mengenai dinamika sosial-budaya masyarakat lokal, serta mengembangkan kemampuan soft skill, seperti komunikasi, kolaborasi, dan adaptasi sosial di tengah masyarakat multikultural.

Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapat pemaparan materi dan pendampingan dari PPPA Daarul Qur’an (Program Pembibitan Penghafal Al-Qur’an Daarul Qur’an) yang disampaikan oleh tokoh lokal, Ustaz Muhibbin. Materi yang disampaikan meliputi sejarah masyarakat Tengger sebelum masuknya Islam, proses islamisasi yang berlangsung secara bertahap, kontribusi PPPA Daarul Qur’an dalam pembinaan masyarakat, karakter sosial masyarakat Tengger yang mengedepankan harmoni dibandingkan konflik, serta bentuk interaksi antara Islam dan budaya lokal Tengger.

Melalui observasi lapangan tersebut, para peserta juga diperkenalkan pada perkembangan komunitas Muslim Tengger yang dikenal sebagai Kampung Qur’an. Sekitar dua dekade terakhir, komunitas Muslim di wilayah Wonokerto mulai tumbuh secara lebih terorganisasi sebagai bagian dari dinamika sosial masyarakat Tengger.

Salah satu tokoh penting dalam perkembangan komunitas tersebut adalah Sumarjono atau Haji Jono, seorang warga Tengger mualaf yang mewakafkan serta membangun Musala Al-Ikhlas Wal Barokah pada tahun 2011. Pada tahap awal pembangunannya, musala tersebut berukuran sederhana dan kemudian mengalami pengembangan secara bertahap seiring meningkatnya aktivitas keagamaan masyarakat Muslim setempat.

Fenomena Kampung Qur’an di kawasan Bromo tidak dapat dipahami sebagai dominasi Islam atas budaya lokal, melainkan sebagai representasi komunitas Muslim yang hidup berdampingan di tengah mayoritas masyarakat Hindu Tengger. Berdasarkan data Kecamatan Sukapura, persebaran masyarakat Muslim dan Hindu tersebar di beberapa desa dengan komposisi yang tidak merata. Desa Wonokerto menjadi salah satu wilayah dengan komunitas Muslim yang relatif lebih berkembang dibandingkan desa lainnya.

Di kawasan ini, Islam hadir melalui pendekatan pendidikan, pembinaan sosial, dan harmonisasi budaya, bukan melalui konfrontasi terhadap tradisi lokal. Pendekatan tersebut menjadikan proses penerimaan nilai-nilai Islam berlangsung secara damai dan adaptif di tengah masyarakat adat Tengger yang masih memegang teguh tradisi leluhur mereka.

Masyarakat Tengger dikenal sebagai komunitas yang hidup sederhana, menjunjung tinggi adat istiadat, serta memiliki kedekatan yang kuat dengan alam dan warisan budaya nenek moyang. Dalam konteks tersebut, keberadaan Kampung Qur’an menjadi fenomena sosial yang menarik karena menunjukkan bagaimana pendidikan Islam dapat berkembang di tengah masyarakat adat tanpa menghilangkan identitas budaya lokal.

Akulturasi budaya yang terjadi di kawasan Tengger memperlihatkan adanya proses percampuran budaya yang berlangsung secara harmonis tanpa menghapus unsur asli masing-masing budaya. Nilai-nilai Islam berkembang melalui pendekatan persuasif yang menghormati tradisi masyarakat setempat. Islam tidak hadir untuk menggantikan budaya Tengger, melainkan beradaptasi dan berjalan berdampingan dengan adat yang telah lama hidup di tengah masyarakat.

Secara historis, masyarakat Tengger memiliki keterkaitan erat dengan legenda Roro Anteng dan Joko Seger yang dipercaya sebagai asal-usul nama “Tengger”. Hingga saat ini, masyarakat Tengger masih melestarikan berbagai ritual adat, salah satunya tradisi Yadnya Kasada yang menjadi simbol penghormatan kepada leluhur sekaligus ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa.

Tradisi Yadnya Kasada dilaksanakan setiap tahun dengan prosesi yang dimulai pada malam hari. Dalam ritual tersebut, masyarakat membawa hasil bumi dan hewan ternak menuju kawah Gunung Bromo sebagai bentuk persembahan simbolik. Para petani membawa hasil panen berupa sayur-mayur, sedangkan para peternak membawa hewan ternak sebagai bagian dari tradisi adat yang diwariskan secara turun-temurun.

Tradisi tersebut tidak hanya mencerminkan kuatnya hubungan masyarakat Tengger dengan budaya leluhur, tetapi juga menunjukkan nilai kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur yang tetap terpelihara hingga saat ini. Identitas budaya masyarakat Tengger juga terlihat melalui penggunaan pakaian adat selama pelaksanaan ritual berlangsung. Kaum laki-laki mengenakan udeng khas Tengger yang dipadukan dengan busana tradisional, sementara kaum perempuan mengenakan kebaya sebagai bentuk penghormatan terhadap adat dan budaya setempat.

Menariknya, di tengah kuatnya tradisi adat tersebut, pendidikan Islam dapat diterima secara baik melalui pendekatan sosial dan budaya yang humanis. Kampung Qur’an tidak hadir sebagai simbol perubahan budaya secara radikal, melainkan sebagai ruang pendidikan yang menanamkan nilai-nilai moral, spiritual, dan akhlak tanpa menghilangkan identitas budaya masyarakat Tengger.

Setiap sore, anak-anak di lereng Gunung Bromo berjalan melewati medan pegunungan untuk mengikuti kegiatan belajar mengaji di Kampung Qur’an. Di tempat yang sederhana tersebut, mereka belajar membaca Al-Qur’an, menghafal doa-doa pendek, serta memahami nilai-nilai kehidupan seperti kejujuran, kesopanan, dan kepedulian sosial.

Para pengajar di Kampung Qur’an menerapkan pendekatan yang penuh kesabaran, toleransi, dan penghormatan terhadap budaya lokal. Dakwah dilakukan melalui pendidikan, keteladanan, dan hubungan sosial yang baik sehingga nilai-nilai agama dapat diterima tanpa menimbulkan benturan budaya di tengah masyarakat adat.

Keberadaan Kampung Qur’an di kawasan Tengger menjadi bukti konkret bahwa akulturasi budaya mampu menciptakan kehidupan sosial yang harmonis. Nilai-nilai Islam seperti kepedulian sosial, penghormatan terhadap sesama, dan semangat kebersamaan memiliki keterkaitan dengan nilai budaya masyarakat Tengger yang menjunjung tinggi solidaritas dan gotong royong.

Di tengah kehidupan modern yang sering diwarnai konflik identitas dan perbedaan sosial, masyarakat lereng Bromo justru memperlihatkan bahwa keberagaman budaya dan keyakinan dapat menjadi fondasi dalam membangun harmoni sosial. Akulturasi budaya yang berkembang di kawasan tersebut menunjukkan bahwa agama dan budaya tidak selalu berada dalam posisi yang bertentangan, melainkan dapat saling melengkapi dan memperkaya kehidupan masyarakat.

Bagi sebagian orang, Gunung Bromo mungkin hanya dikenal sebagai destinasi wisata alam. Namun, di balik lanskap pegunungan dan dinginnya udara lereng Bromo, terdapat pelajaran penting mengenai toleransi, pendidikan, dan harmoni budaya yang hidup di tengah masyarakat Tengger.

Melalui pengalaman akademik ini, para dosen dan mahasiswa mendapat pemahaman bahwa budaya dan agama dapat berjalan secara berdampingan melalui sikap saling menghormati, dialog sosial, dan nilai kemanusiaan. Dari kawasan lereng Bromo tersebut, tercermin sebuah realitas sosial bahwa keberagaman bukanlah penghalang, melainkan kekuatan untuk membangun kehidupan masyarakat yang damai, inklusif, dan penuh makna. Untuk meningkatkan budaya akademik dan budaya riset, tindak lanjut dari kegiatan ini mahasiswa diberi penugasan untuk menulis laporan berupa artikel ilmiah atau artikel populer yang dipublikasikan.