SALATIGA – Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir melalui Students Research Center for Interdisciplinary Qur’anic Studies sukses menyelenggarakan kegiatan Lokus Dialektika #5 bertajuk Bedah Buku “NII sampai JI: Salafi Jihadisme di Indonesia” pada Kamis, 23 April 2026. Kegiatan ini berlangsung di Sudut Dialektika, belakang Gedung C Kampus 2 UIN Salatiga dan dihadiri oleh mahasiswa serta peserta umum yang antusias mengikuti jalannya diskusi.
Acara dipandu oleh Salwa Salsabila selaku host, dengan Adif Fahrizal sebagai pemantik utama, serta pengantar materi oleh Farid Hasan. Diskusi dimulai pukul 13.00 WIB dan berlangsung dalam suasana dialogis yang interaktif.
Dalam pengantarnya, Farid Hasan menekankan pentingnya membaca fenomena gerakan Islam kontemporer secara kritis dan historis. Ia menyampaikan bahwa buku yang dibedah memberikan gambaran komprehensif mengenai dinamika gerakan seperti NII hingga Jamaah Islamiyah di Indonesia.

“Buku ini menunjukkan bahwa gerakan Salafi-Jihadi tidak bisa dipahami secara hitam-putih, tetapi harus dilihat dalam konteks sejarah, politik, dan sosial yang melingkupinya, dalam konteks kajian tafsir, mahasiswa bisa mengkaji produk-produk “tafsir jihadi”, menyentuh dimensi sosial-politik dengan pendekatan historis- kritis” ungkapnya.
Sementara itu, Adif Fahrizal sebagai pemantik menjelaskan poin-poin penting dari isi buku, terutama terkait transformasi ideologi dan jaringan gerakan. Ia menyoroti bagaimana konstruksi pemahaman keagamaan dapat beririsan dengan kepentingan tertentu.
“Narasi jihad dalam kelompok-kelompok ini seringkali mengalami penyempitan makna, dari yang semestinya luas dan kontekstual menjadi sempit dan eksklusif,” jelasnya.
Lebih lanjut, dalam diskusi juga dibahas bahwa buku tersebut mengajak pembaca untuk memahami bahwa radikalisme tidak lahir secara instan, melainkan melalui proses panjang yang melibatkan pendidikan, lingkungan, dan dinamika global.
“Radikalisme bukan sekadar persoalan teologi, tetapi juga persoalan sosial yang kompleks,” menjadi salah satu kutipan yang banyak mendapat perhatian peserta.
Peserta yang hadir turut aktif memberikan tanggapan dan pertanyaan, terutama terkait relevansi kajian tersebut dengan kondisi sosial-keagamaan di Indonesia saat ini. Diskusi berkembang ke arah pentingnya literasi keagamaan yang moderat serta peran akademisi dalam membangun narasi keislaman yang inklusif.
Kegiatan ini menjadi bagian dari upaya penguatan tradisi intelektual di kalangan mahasiswa, khususnya dalam membaca isu-isu keislaman secara kritis, komprehensif, dengan pendekatan interdisipliner. Dengan terselenggaranya acara ini, diharapkan mahasiswa tidak hanya menjadi pembaca pasif, tetapi juga mampu menjadi analis yang peka terhadap realitas sosial.
Sebagai penutup, host menyampaikan harapan agar forum Lokus Dialektika dapat terus menjadi ruang bertukar gagasan yang produktif dan mencerahkan, serta mendorong lahirnya pemikiran-pemikiran baru yang konstruktif di lingkungan akademik.
#prodi # Keprodian






