UPDATE KABAR SEPUTAR PRODI IAT

#3 LOKUS DIALEKTIKA: BEDAH BUKU “Women, Islam and Modernity: Single Women, Sexuality And Reproductife Health In Contemporary Indonesia“ karya Linda R Bennet.

10 Desember 2025,- Student Research Center for Interdisciplinary Qur’anic Studies (SCR-IQS) IAT UIN Salatiga menyelenggarakan kegiatan #3 Lokus Dialektika dalam format bedah buku yang bertempat di Laboratorium Pemikiran Islam, Kampus 2 UIN Salatiga. Kegiatan dimulai pukul 13.00 WIB hingga selesai dan terbuka untuk mahasiswa serta peserta umum yang memiliki minat pada kajian Islam dan isu-isu sosial kontemporer.

Buku yang dibedah dalam forum ini adalah Women, Islam and Modernity: Single Women, Sexuality and Reproductive Health in Contemporary Indonesia karya Linda R. Bennett. Diskusi menghadirkan Farid Hasan sebagai prolog, Nazila sebagai host, dan Saifunnuha sebagai pemantik diskusi.

Latar Belakang dan Pengumuman Kegiatan

Kegiatan ini diadakan sebagai respons atas pentingnya membaca ulang relasi antara Islam, modernitas, dan pengalaman perempuan lajang di Indonesia. Buku karya Linda R. Bennett mengangkat tema yang jarang dibahas secara terbuka di ruang-ruang akademik keislaman: bagaimana perempuan lajang Muslim di Indonesia menavigasi isu seksualitas, kesehatan reproduksi, serta tekanan sosial dalam masyarakat yang religius sekaligus modern.

Melalui pendekatan antropologis, buku ini memotret kehidupan sehari-hari perempuan lajang di berbagai kota di Indonesia, menunjukkan bagaimana mereka berhadapan dengan norma agama, ekspektasi keluarga, stigma sosial, dan kebijakan negara. Tema ini kemudian diangkat dalam Lokus Dialektika sebagai ruang ilmiah untuk mendiskusikan secara terbuka dan kritis.

Jalannya Diskusi

Acara dibuka dengan prolog oleh Farid Hasan yang menegaskan pentingnya menghadirkan kajian interdisipliner dalam membaca realitas umat Islam hari ini. Ia menyampaikan bahwa modernitas tidak dapat dihindari, dan karena itu perlu dibaca dengan perangkat analisis yang komprehensif, termasuk antropologi dan studi gender.

Pemantik, Saifunnuha, memaparkan beberapa gagasan kunci dari buku tersebut, di antaranya:

  1. Perempuan Lajang dan Tekanan Sosial

Dalam masyarakat Indonesia, status lajang sering kali dianggap sebagai “ketidaklengkapan” atau penyimpangan dari norma ideal. Buku ini menunjukkan bahwa perempuan lajang menghadapi tekanan berlapis—dari keluarga, komunitas, hingga institusi keagamaan.

  1. Islam dan Modernitas

Diskusi menyoroti bahwa modernitas tidak selalu bertentangan dengan Islam, tetapi menciptakan ruang negosiasi baru. Perempuan Muslim lajang kerap mengembangkan strategi untuk tetap religius sekaligus otonom dalam menentukan pilihan hidupnya.

  1. Seksualitas dan Kesehatan Reproduksi

Salah satu bagian paling menarik dari diskusi adalah pembahasan mengenai keterbatasan akses informasi dan layanan kesehatan reproduksi bagi perempuan lajang. Norma moral sering kali membatasi ruang edukasi, padahal kebutuhan informasi tersebut bersifat universal.

  1. Negosiasi Identitas

Buku ini memperlihatkan bahwa perempuan lajang bukan subjek pasif. Mereka aktif membentuk identitas, menafsirkan ajaran agama, serta mengelola relasi sosial dalam situasi yang kompleks.

Diskusi berlangsung dinamis dan interaktif. Beberapa peserta mengajukan pertanyaan kritis mengenai batas antara nilai agama dan konstruksi budaya, sementara yang lain menekankan pentingnya literasi kesehatan reproduksi dalam perspektif Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Forum juga membahas bagaimana kampus dapat menjadi ruang aman untuk mendiskusikan isu-isu yang sering dianggap tabu.

Refleksi dan Penutup

#3 Lokus Dialektika menegaskan kembali komitmen SCR-IQS sebagai ruang intelektual yang membuka dialog antara teks, konteks, dan realitas sosial. Bedah buku ini tidak dimaksudkan untuk menggugat ajaran agama, melainkan untuk memperkaya pemahaman tentang bagaimana ajaran tersebut dihidupi dalam situasi sosial yang terus berubah.

Melalui kegiatan ini, peserta diajak untuk melihat bahwa persoalan perempuan lajang, seksualitas, dan kesehatan reproduksi bukan sekadar isu privat, tetapi bagian dari dinamika sosial-keagamaan yang membutuhkan pembacaan ilmiah, empatik, dan kontekstual.

Acara ditutup dengan ajakan untuk terus menghidupkan tradisi diskusi kritis di lingkungan kampus. Sebab, sebagaimana semangat Lokus Dialektika, pengetahuan bukan hanya untuk disimpan, melainkan untuk didialogkan, diuji, dan dikembangkan demi kemaslahatan bersama.