Sejarah Prodi
Prodi Ilmu Hadis (IH) UIN Salatiga memiliki akar panjang dari perkembangan pendidikan Islam di Jawa Tengah. Berawal dari Fakultas Ilmu Pendidikan IKIP Nahdlatul Ulama Salatiga tahun 1960-an, transformasi terjadi pada 1970 saat menjadi cabang Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo Semarang berdasarkan SK Menteri Agama No. 30/1970.
Pada 1997, institusi ini berdiri mandiri sebagai STAIN Salatiga melalui Keppres RI No. 11/1997, menandai era baru pengembangan studi keislaman di kota santri Salatiga. Momentum krusial datang tahun 2014 ketika Fakultas Ushuluddin, Adab & Humaniora (FUADAH) melahirkan Prodi IH baru, bersamaan dengan IAT, SPI, BSA, dan AFI. Resmi diakui via SK Dirjen Pendidikan Islam No. 543/2015 tanggal 28 Januari 2015, penerimaan mahasiswa baru dimulai tahun akademik 2015/2016.
Evolusi Institusi dan Kurikulum
Status naik menjadi IAIN Salatiga pada tahun 2015 dan akhirnya UIN Salatiga pada tahun 2022 (Perpres No. 88/2022) memperkuat posisi prodi ini. Kurikulum 2023-2027 yang baru dirancang berbasis KKNI dan SNPT, menekankan digitalisasi hadis (Hadis & TI, Programming Hadis), metodologi riset (Takhrij, Kritik Matan), serta wasathiyyah Islamiyah.
Kontribusi Strategis
Prodi IH lahir untuk menjawab kebutuhan kajian hadis kontekstual di Indonesia tengah. Berbeda dengan prodi hadis lain yang fokus riwayah, IH UIN Salatiga mengintegrasikan ilmu sosial, teknologi, dan kearifan lokal Jawa Tengah. Lulusan difokuskan jadi ahli hadis pratama, akademisi, dan edupreneur digital, siap memerangi hoaks agama era 4.0 melalui verifikasi sanad digital dan konten sunnah moderat.
Saat ini, Prodi IH berada di FUADAH UIN Salatiga, berkomitmen wujudkan visi “pusat unggulan kajian hadis Indonesia berbasis wasathiyyah menuju keluhuran martabat kemanusiaan tahun 2045”. Dengan 144 SKS (termasuk 30 SKS pilihan seperti Digitalisasi Hadis dan Ekonomi Kreatif), prodi ini menyiapkan generasi ahli hadis yang relevan bagi tantangan kontemporer.

