Prodi Ilmu Hadis Sambut Mahasiswa Baru 2026: Dari Pertanyaan Radikal hingga “Bagaimana Jika Bolos Kuliah?”

Salatiga, 21 Agustus 2026 — Program Studi Ilmu Hadis Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora (FUADAH) UIN Salatiga menyambut mahasiswa baru tahun akademik 2026 melalui kegiatan pengenalan keprodian yang berlangsung pada Jumat (21/8/2026) di ruang kelas C2 FUADAH. Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Pengenalan Budaya Akademik dan Kemahasiswaan (PBAK) yang difasilitasi oleh Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS) Ilmu Hadis sebagai panitia PBAK.

Hadir dalam kegiatan tersebut jajaran pengelola Prodi Ilmu Hadis, yakni Ketua Program Studi (Kaprodi) Ulfi Putra Sani, Sekretaris Prodi (Sekprodi) Rina Susanti, dan staf Prodi Kholid Asnawi. Kehadiran pengelola Prodi secara langsung menjadi kesempatan bagi mahasiswa baru untuk mengenal lebih dekat orang-orang yang akan membersamai perjalanan akademik mereka selama menempuh studi di Prodi Ilmu Hadis.

Acara diawali oleh Kaprodi Ilmu Hadis, Ulfi Putra Sani, dengan memperkenalkan Sekretaris Prodi Rina Susanti dan staf Prodi Kholid Asnawi. Setelah perkenalan, Kaprodi menyampaikan selayang pandang mengenai Prodi Ilmu Hadis, termasuk karakteristik keilmuan, kehidupan akademik, serta berbagai hal yang perlu dipahami mahasiswa baru dalam menjalani proses pendidikan di perguruan tinggi.

Paparan Kaprodi kemudian diperkuat oleh Sekretaris Prodi Rina Susanti. Ia menekankan pentingnya menjaga komunikasi yang baik antarcivitas akademika, terutama antara mahasiswa dengan Dosen Pembimbing Akademik (DPA) yang berperan sebagai wali mahasiswa selama menjalani proses studi hingga lulus.

Menurutnya, mahasiswa perlu membangun komunikasi sejak awal dengan DPA dan tidak segan berkonsultasi apabila menghadapi persoalan akademik maupun membutuhkan arahan selama menjalani perkuliahan. Komunikasi yang baik diharapkan dapat membantu mahasiswa mengenali berbagai persoalan akademik lebih dini sekaligus memastikan proses studi berjalan secara terarah.

Selain komunikasi, mahasiswa baru juga diingatkan mengenai etika berkomunikasi dalam lingkungan akademik. Salah satu hal yang ditekankan adalah pentingnya memperhatikan waktu ketika menghubungi dosen maupun tenaga kependidikan. Mahasiswa diharapkan memahami jam layanan kantor dan jam kerja yang semestinya, menggunakan bahasa yang santun, serta menyampaikan keperluan secara jelas dan proporsional.

Setelah penyampaian materi keprodian, kegiatan dilanjutkan dengan sesi tanya jawab. Tiga mahasiswa baru mendapatkan kesempatan untuk menyampaikan pertanyaan. Menariknya, pertanyaan yang muncul cukup beragam, mulai dari pertanyaan kritis mengenai corak pembelajaran hadis, kegelisahan tentang masa depan alumni, hingga pertanyaan polos dan praktis mengenai persoalan perkuliahan.

Mahasiswa baru bernama Uda mengawali sesi dengan pertanyaan yang cukup kritis: “Benarkah di Prodi ini mahasiswa diajarkan memahami hadis secara radikal?” Pertanyaan tersebut memperlihatkan rasa ingin tahu mahasiswa baru mengenai bagaimana hadis akan dipelajari dan dipahami selama menempuh pendidikan di Prodi Ilmu Hadis.

Pertanyaan berikutnya datang dari Novel, yang menyampaikan kegelisahan teman-temannya mengenai masa depan setelah menyelesaikan studi. Ia menangkap keresahan tersebut dalam pertanyaan sederhana tetapi substantif: “Akan menjadi apa mereka kelak setelah menjadi alumni Prodi ini?”. Pertanyaan Novel menunjukkan bahwa mahasiswa baru tidak hanya ingin mengetahui apa yang akan mereka pelajari selama kuliah, tetapi juga mulai memikirkan relevansi ilmu yang diperoleh dengan kehidupan dan masa depan mereka setelah lulus.

Sementara itu, pertanyaan ketiga disampaikan dengan kepolosan khas mahasiswa baru. Ia menanyakan “bagaimana jika bolos kuliah?” Pertanyaan sederhana tersebut justru memperlihatkan bahwa mahasiswa baru juga ingin mengetahui bagaimana menghadapi dinamika dan persoalan nyata dalam menjalani kehidupan perkuliahan.

Ketiga pertanyaan tersebut dijawab secara langsung dan tuntas oleh Kaprodi Ilmu Hadis, Ulfi Putra Sani. Kaprodi memberikan penjelasan yang tidak hanya menjawab substansi pertanyaan, tetapi juga memberikan pemahaman kepada mahasiswa baru mengenai sikap dan tanggung jawab yang perlu dibangun selama menjadi mahasiswa.

Pertanyaan mengenai pemahaman hadis secara “radikal” diarahkan pada pentingnya memahami hadis melalui pendekatan keilmuan yang akademis, kritis, dan bertanggung jawab. Sementara pertanyaan mengenai masa depan alumni menjadi momentum untuk memberikan gambaran bahwa kompetensi yang diperoleh selama studi dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk mengembangkan berbagai kapasitas setelah lulus.

Adapun pertanyaan mengenai “bolos kuliah” dijadikan kesempatan untuk mengingatkan mahasiswa bahwa kehidupan perkuliahan membutuhkan kedisiplinan, tanggung jawab, dan komitmen terhadap proses pembelajaran. Mahasiswa perlu memahami konsekuensi dari setiap pilihan yang diambil selama menjalani studi sekaligus mengetahui jalur komunikasi yang dapat ditempuh ketika menghadapi persoalan akademik.

Keragaman pertanyaan tersebut membuat sesi dialog berlangsung cair dan akrab. Dari pertanyaan tentang “radikal”, kegelisahan mengenai masa depan alumni, hingga persoalan “bolos kuliah”, terlihat bahwa mahasiswa baru datang dengan berbagai rasa ingin tahu dan ekspektasi terhadap kehidupan mereka di Prodi Ilmu Hadis.

Kegiatan kemudian ditutup dengan foto bersama antara pengelola Prodi, panitia HMPS, dan mahasiswa baru Ilmu Hadis tahun 2026. Momen tersebut menjadi penanda dimulainya perjalanan akademik mahasiswa baru sekaligus simbol kebersamaan antara mahasiswa dan keluarga besar Prodi Ilmu Hadis FUADAH UIN Salatiga.

Penyambutan mahasiswa baru ini pada akhirnya bukan sekadar agenda seremonial dalam rangkaian PBAK. Kegiatan tersebut menjadi ruang perjumpaan pertama antara mahasiswa baru dan pengelola Prodi untuk membangun komunikasi, mengenalkan budaya akademik, menjawab kegelisahan, serta menanamkan kesadaran bahwa perjalanan menjadi mahasiswa Ilmu Hadis merupakan proses yang membutuhkan kedisiplinan, komunikasi, tanggung jawab, dan kesiapan menatap masa depan.