BANGKALAN– Antusiasme tinggi menyelimuti Aula Nahdlatutturots, Bangkalan, Madura, saat puluhan mahasiswa peserta KKL berkumpul dalam gelaran Seminar Nasional bertajuk pelestarian naskah klasik pada Selasa, 28/4. Acara ini menjadi momentum penting dalam upaya penyelamatan khazanah keilmuan Islam nusantara melalui teknologi digital.

Sinergi Akademis dan Pesantren

Acara dibuka dengan sambutan hangat dari Dekan Fuadah, Prof. Dr. Supardi, MA., yang menekankan pentingnya peran mahasiswa dalam menjaga rantai sanad keilmuan melalui naskah-naskah kuno. Senada dengan hal tersebut, Dr. Sri Guno Najib Chaqoqo, MA., juga memberikan apresiasi atas kolaborasi ini sebagai langkah nyata integrasi antara tradisi pesantren dan metodologi akademis.

Langkah Strategis Pengelolaan Turots

Dua narasumber ahli hadir membedah tuntas manajemen naskah. Lora Usman Hasan dan Dr. Ahmad Karomi secara bergantian memaparkan bahwa mengelola turots (naskah klasik) bukan sekadar menyimpan kertas lama, melainkan sebuah proses ilmiah yang panjang.

Berdasarkan materi yang dipaparkan, terdapat empat pilar utama dalam digitalisasi turots:

1. Identifikasi: Mengenali kualitas, orisinalitas, serta aspek fisik (kodikologi) dan teks (filologi) naskah.

2. Digitalisasi: Proses konversi fisik ke format digital (seperti PDF) menggunakan perangkat khusus seperti Scanner CZUR untuk tujuan preservasi dan aksesibilitas.

3. Katalogisasi: Penyusunan daftar sistematis mulai dari judul, pengarang, hingga deskripsi fisik agar naskah mudah ditemukan.

4. Metode Tahqiq Berbasis Digital: Proses verifikasi keotentikan teks guna memastikan naskah yang diterbitkan sesuai dengan kehendak penulis aslinya, bebas dari kesalahan salin.

Diskusi Hangat: Waktu Terasa Kurang

Sesi tanya jawab menjadi bagian yang paling dinamis. Para mahasiswa tampak sangat antusias menggali lebih dalam mengenai teknis Tahqiq dan tantangan menjaga naskah di era digital. Pertanyaan demi pertanyaan yang meluncur membuat durasi acara yang disediakan terasa sangat singkat.”Waktu serasa kurang untuk membedah begitu banyaknya khazanah yang kita miliki di Bangkalan ini,” ujar salah satu peserta di sela-sela diskusi.

Seminar ini ditutup dengan harapan besar agar gerakan Dakwah Digital Berbasis Turots semakin masif, sehingga warisan pemikiran ulama terdahulu tidak hanya tersimpan di lemari tua, tetapi mampu mewarnai ruang digital masa kini. (nc)