FUADAH – Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora (Fuadah) menyambut kunjungan kehormatan delegasi gereja dari Jerman, Rwanda, serta Gereja Kristen Jawa Tengah Utara (GKJTU). Kegiatan ini diisi dengan dialog interaktif yang mengangkat tema utama “Peran Lembaga Pendidikan Dalam Membangun Perdamaian Lintas Budaya”.

Dalam diskusi tersebut, para utusan memaparkan pengalaman masing-masing negara dalam memelihara perdamaian, membangun koeksistensi sosial, serta mengelola keberagaman masyarakat. Paparan situasi dari Jerman dan Rwanda kemudian disinkronkan dengan konteks pluralisme di Indonesia. Diskusi menunjukkan bahwa terdapat banyak kesamaan strategi antara negara-negara tersebut dan Indonesia dalam menjaga harmonisasi dan kerukunan di tengah perbedaan.

Paparan Konteks Sosial-Keagamaan

Dalam salah satu sesi pemaparan materi, delegasi mempresentasikan gambaran situasi interkultural dan antarumat beragama di Jerman. Data menunjukkan keberagaman lanskap keagamaan di Jerman, di mana kelompok non-confessional mencakup 47%, Katolik Roma 23%, Protestan 21%, Muslim 5%, Ortodoks 3%, serta agama lainnya (Yudaisme, Hindu, Buddha) sebesar 1%. Melalui semangat Coexist, lembaga pendidikan dan keagamaan dinilai memiliki peran strategis dalam merekatkan jalinan lintas budaya.

Acara yang berlangsung hangat ini dipandu langsung oleh Ketua Program Studi Ilmu Hadis (ILHA), Ulfi Putra Sani, selaku moderator. Turut hadir menyambut para tamu internasional, Pimpinan Fakultas: Wakil Dekan 2 (Dr. M. Ghufron), Wakil Dekan 3 (Abdul Syukur), serta Ketua Gugus Jaminan Mutu Fakultas (GJMF), Dr. Sutrisna. (Dekan dan Wakil Dekan 1 berhalangan hadir dikarenakan agenda dinas lain yang bersamaan).

Perwakilan Prodi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) yg hadir adalah Ketua Prodi (Dr. Sri Guno Najib Chaqoqo), Sekretaris Prodi (Betari Irma Gasani), serta para dosen homebase: Rina Susanti (yang juga menjabat Sekprodi ILHA), Matrokhim, dan Alifia Rohmah.

Daftar Delegasi dan Tamu Undangan dari Jermah adalah Pendeta Sarah Kannemann, Pendeta Conrad Almutli, Pendeta David Kannemann. Sementara utusan Rwanda; Uskup Musabyimana Assiel, Mukanziranziza Fortune, Imanirakiza Felicien. Adapun utusan GKJTU; Pendeta Akris Mujiyono, sedangkan utusan SHABDI; Suranta

Melalui forum dialog ini, diharapkan lembaga pendidikan tinggi dapat terus memperkuat perannya sebagai pilar utama dalam menyebarkan nilai-nilai toleransi, perdamaian, dan pemahaman lintas budaya di tingkat lokal maupun internasional.