PROBOLINGGO – Dalam rangkaian agenda Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Riset Interdisipliner 2026, mahasiswa Program Studi Bahasa dan Sastra Arab (BSA) Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora (FUADAH) UIN Salatiga melakukan kunjungan mendalam ke Desa Adat Ngadas, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo, pada Rabu (29/04).Kunjungan ini merupakan bagian dari upaya akademik untuk memperkuat kajian Ushuluddin, Adab, dan Humaniora dalam bingkai kerukunan umat beragama. Desa Ngadas dipilih sebagai lokasi riset karena keunikan sosiokulturalnya yang terjaga selama berabad-abad.

Kehangatan Sambutan di Negeri Atas Awan
Rombongan mahasiswa dan dosen disambut hangat oleh Kepala Desa Ngadas, Bapak Kastaman, serta Sesepuh Adat sekaligus Dukun Pandito, Romo Sasmito. Suasana penuh persaudaraan terasa saat salam khas Tengger menggema di lokasi acara.”Wong Hulun Basuki Langgeng,”ucap para tokoh adat yang kemudian dijawab dengan takzim oleh hadirin, “Langgeng Basuki.”
Dalam sambutannya, Dekan FUADAH UIN Salatiga menyampaikan bahwa kunjungan ini bukan sekadar perjalanan wisata, melainkan misi ilmiah untuk memahami bagaimana nilai-nilai ketuhanan dan kemanusiaan berpadu dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Tengger.
Hindu Tengger: Simbol Harmoni yang Khas
Salah satu poin utama dalam riset ini adalah membedah kekhasan ajaran Hindu di Suku Tengger. Meski mayoritas penduduk (sekitar 90%) memeluk agama Hindu, praktik dan ritualnya memiliki karakteristik yang berbeda dengan Hindu di Bali maupun India. Hindu Tengger merefleksikan akulturasi budaya lokal yang kuat, menjadikannya laboratorium hidup bagi studi moderasi beragama di Indonesia.
Eksplorasi Alam Sebelum Riset Budaya
Sebelum memulai sesi diskusi formal dan riset di desa adat, rombongan mahasiswa terlebih dahulu menyambangi pesona alam Gunung Bromo pada pagi harinya. Melintasi Pasir Berbisik yang legendaris, para mahasiswa diajak untuk mensyukuri kekayaan alam nusantara sebagai latar belakang geografis yang membentuk karakter tangguh Suku Tengger.

Kunjungan berlangsung hingga 30 April 2026, diharapkan mampu menghasilkan output riset yang tajam, khususnya dari perspektif mahasiswa Bahasa dan Sastra Arab dalam melihat interaksi budaya dan bahasa di lingkungan masyarakat adat.
