Sastrawan dan akademisi Okky Madasari hadir di acara PBAK FUADAH pada Kamis, 20/8. Ia memberikan pemaparan inspiratif yang membedah peran ilmu pengetahuan, sastra, hingga isu-isu sosial-politik terkini. Dalam kesempatan tersebut, Okky menegaskan bahwa apa pun disiplin ilmu yang ditempuh mahasiswa, tujuan utamanya harus berujung pada manfaat nyata bagi masyarakat.

Diskusi berlangsung dinamis saat merespons berbagai persoalan krusial. Terkait wacana Indonesia bergabung dalam Board of Peace, respons kritis mengemuka dari mahasiswa Prodi Sejarah Peradaban Islam (SPI) yang menilai kebijakan tersebut perlu dicermati rekam jejak penyusunnya agar tidak melenceng dari komitmen historis Indonesia terhadap kemerdekaan Palestina. Begitu pula mengenai wacana organisasi keagamaan yang mengelola tambang, forum menilai langkah tersebut kurang tepat. Mengacu pada prinsip ilmu hadis, pengelolaan bidang teknis harus diserahkan kepada ahlinya berlandaskan riset yang matang.
Dalam sesi pemaparannya, Okky mengulas sejarah panjang tradisi berpikir Islam di Nusantara yang telah tumbuh sejak abad ke-16 melalui karya sastra Melayu seperti Syair Perahu karya Hamzah Fansuri. Tradisi menyuarakan gagasan lewat seni ini diteruskan oleh tokoh-tokoh besar seperti Buya Hamka lewat Tenggelamnya Kapal Van der Wijck, A.A. Navis melalui Robohnya Surau Kami, hingga pemikiran humanis Gus Dur.

Okky juga membagikan pengalamannya menggunakan sastra sebagai media perjuangan intelektual. Melalui novel Entrok, ia menghadirkan wajah Islam yang ramah, sementara lewat Maryam, isu kemanusiaan dan kelompok marjinal diangkat secara elegan.
Menutup sesi interaktif, Okky menepis anggapan bahwa mahasiswa UIN tertinggal dari perguruan tinggi lain. Menurutnya, pandangan tersebut hanyalah mitos belaka. Kombinasi fondasi keagamaan yang kuat dan pemahaman ilmu sosial yang luas justru memberi mahasiswa UIN keunggulan analitis yang matang untuk berkontribusi di tengah masyarakat.
Staff redaksi
