Dialektika Teks dan Konteks: Mahasiswa AFI UIN Salatiga Jadikan Suku Tengger Laboratorium Kerukunan Beragama PROBOLINGGO/PASURUAN

Di balik kabut tipis dan sejuknya udara lereng Gunung Bromo, lanskap sosiologis masyarakat Suku Tengger menyimpan kekayaan nilai toleransi yang otentik. Menyadari tingginya potensi sosiokultural ini, mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan (KKL) Program Studi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga menjadikan Kampung Adat Tengger, Jawa Timur, sebagai laboratorium hidup (living laboratory).Mengusung tema strategis “Menguatkan Kajian Ushuluddin, Adab, dan Humaniora sebagai Upaya Meneguhkan Kerukunan Umat Beragama,” kegiatan ini tidak dikonsep sekadar sebagai rutinitas akademik. KKL ini merupakan sebuah ekspedisi epistemologis bagi mahasiswa untuk melihat langsung bagaimana praksis kerukunan dan kohesi sosial dirawat di tengah masyarakat yang plural.Dekan Fakultas Ushuluddin, Adab, dan Humaniora (FUADAH) UIN Salatiga, Prof. Supardi, dalam sambutannya menekankan pentingnya integrasi antara kajian teoretis di ruang kelas dengan realitas sosial yang dinamis.”Kajian Ushuluddin, Adab, dan Humaniora tidak boleh hanya mandek pada perdebatan tekstual di atas kertas. Kita harus turun ke masyarakat untuk mengamati bagaimana nilai-nilai ketuhanan, adab, dan kemanusiaan itu diterjemahkan ke dalam laku hidup sehari-hari,” tegas Prof. Supardi. Beliau menambahkan bahwa masyarakat Tengger adalah representasi nyata dari sebuah tatanan sosial di mana perbedaan keyakinan tidak menjadi jurang pemisah, melainkan dirajut dalam bingkai kearifan lokal yang sangat harmonis.Kehadiran rombongan akademisi dari UIN Salatiga ini disambut dengan kehangatan khas masyarakat pegunungan oleh Ketua Adat Kampung Tengger. Dalam wejangannya, Ketua Adat memaparkan landasan filosofis dari tata kehidupan masyarakat Tengger yang selalu menjunjung tinggi keseimbangan—baik hubungan antarmanusia, hubungan dengan alam semesta, maupun dengan Sang Pencipta.”Bagi masyarakat kami, kerukunan bukanlah sekadar anjuran atau teori, tetapi sudah menjadi napas dan warisan leluhur yang terus kami jaga. Di sini, umat Hindu, Islam, dan penganut kepercayaan bisa hidup berdampingan, bergotong royong dalam setiap ritual adat maupun aktivitas sosial sehari-hari tanpa adanya sekat pembeda,” tutur Ketua Adat. Beliau menaruh harapan besar agar para mahasiswa dapat menyerap spirit kearifan lokal (local wisdom) tersebut sebagai bekal dalam merawat kebhinekaan di Nusantara.Upaya untuk terus menjembatani teori filsafat-teologi dengan realitas kearifan lokal ini merupakan bagian tak terpisahkan dari peta jalan keilmuan yang terus dikawal oleh fakultas. Arahan akademik dari Erkham Maskuri Lc., M.S.I., senantiasa memastikan bahwa orientasi program-program lapangan seperti KKL ini tetap berpijak pada kerangka metodologis yang ketat. Mahasiswa didorong tidak hanya menjadi pengamat pasif, tetapi dilatih untuk melakukan pembacaan fenomena sosiologis-keagamaan menggunakan kacamata analitis.Kegiatan KKL di lereng Bromo ini diharapkan bermuara pada lahirnya karya-karya tulis ilmiah dan artikel jurnal yang merekam praktik baik (best practice) dari Suku Tengger. Melalui perjumpaan langsung antara teks-teks akademis dan konteks kebudayaan yang hidup, mahasiswa AFI UIN Salatiga diharapkan tumbuh menjadi agen moderasi beragama yang mumpuni secara intelektual sekaligus memiliki kepekaan kultural yang tinggi.