62c5e012 e816 49c1 9c83 2881c8a3d5fe

Memperdalam Ilmu Kearsipan, Mahasiswa SPI Kunjungan Lapangan Ke Surakarta

Guna mempertajam ilmu layanan dan digitalisasi kearsipan, Mahasiswa Sejarah Peradan Islam (SPI) semester 6, Universitas Islam Negeri (UIN) Salatiga yang masuk dalam penjurusan kearsipan lakukan kunjungan lapangan ke Perpustakan Universitas Sebelas Maret (UNS), Mangkunegaran, Monumen Pers Nasional dan Museum Lokananta, pada Rabu 15 April 2026.

d04c2aab b7c0 4b5b 9b81 827758430633

Pemilihan keempat tempat tersebut mempertimbangkan perlakuan arsip yang dilakukan dari masing-masing tempat. Di UNS, kita belajar bagaimana pengelolaan arsip di tingkat Universitas dapat berjalan. Yani Maryudiasti, UPT Kearsipan UNS, memaparkan bahwa pentingnya universitas dapat secara mandiri mengolah dan menyimpan arsip sesuai aturan yang sudah ada.

“Mengapa pengarsipan penting di Universitas, ya kita merujuk pada peraturan yang sudah ada seperti UU No. 43 Tahun 2009 tentang penyelenggaraan kearsipan perguruan tinggi menjadi tanggung jawab perguruan tinggi,” ucapnya.

Lain lagi di Mangkunegaran, di sini dijelaskan bagaimana arsip pribadi milik Mangkunegaran dapat dimanfaatkan oleh para mahasiswa atau peneliti dengan berkunjung di Mangkunegaran. Sayangnya, Darweni, Abdi Dalem Mangkunegaran, mengungkapkan bahwa di tahun ini untuk Reksa Wilapa (baca: layanan arsip Mangkunegaran) belum dapat diakses karena sedang dilakukan penataan dan inventarisasi arsip. Sehingga saat ini layanan yang tersedia hanya Reksa Pustaka (baca: perpustakan Mangkungeran) yang berisi buku-buku dan beberapa penelitian yang sumbernya berasal dari Mangkunegaran.

Selanjutnya di Monumen Pers Nasional—sangat berbeda dengan kedua tempat tersebut, pasalnya di Monumen Pers Nasional yang di bawah Kementerian Penerangan berhasil melakukan digitalisasi arsip-arsip koleksi lama dan beberapa bahkan dapat diakses melalui websitenya. Petugas pendigitalan arsip mengatakan bahwa digitalisasi dilakukan bisa setiap hari di Monumer Pers Nasional.

“Kita bahkan bisa melakukan digitasi arsip 100-500 eksemplar per-hari,” ungkapnya.

Menutup kunjungan, terakhir, kami mengunjungi Museum Lokananta, dan belajar perihal bagaiamana lika-liku sejarah dibentuknya Lokananta hingga sekarang. Tempat ini dapat dikatakan berhasil menyulap sumber-sumber sejarah visual menjadi menarik dan banyak dikunjungi masyarakat umum yang bahkan tidak minat dalam bidang sejarah.

Penulis: Joysi Rain Rosadi